Selasa, 25 Mei 2010

Laptop pertama di dunia

Di tahun 1970-an gagasan komputer pribadi yang portabel pertama kali dipikirkan oleh Alan Kay di Xerox PARC. Orang ini bahkan maju ke depan dan menerbitkan gagasan itu. Gagasan itu segera disambut oleh yang lain, yang akhirnya disepakati nama untuk proyek laptop pertama adalah Osborne1. Pertama diproduksi pada tahun 1981 oleh Adam Osborne, seorang yang bekerja di penerbitan buku, beratnya sekitar 11 kg. Raksasa ini dilengkapi dengan layar monitor 5-inci, kelihatan seperti sebuah ponsel yang berukuran raksasa, layar yang kecil dalam sebuah mesin yang besar.



Keren khan... Mau?

Osborne1 menggunakan sambungan listrik dengan baterai cadangan opsional, serta menggunakan dua floppy drive ukuran 5 ¼ inci, modem port, keyboard, baterai pack dan dibandrol dengan harga sebesar $1800. Jadi, bagaimana kinerjanya?, Well, ibarat pegulat Sumo sedang sprint 100 meter, bisa Anda bayangkan? ini bukanlah sebuah laptop dalam arti yang sebenarnya. Meskipun bisa dibawa kemana-mana, tapi kita sama saja dengan menggendong Anak berumur sekitar 3-4 tahun kemana-mana.

Misteri hilangnya cincin Planet Saturnus

Para astronom amatir di seluruh dunia saat ini memperhatikan perubahan yang sama pada Saturnus: Cincin Saturnus yang lebar menipis menjadi garis tipis. Efrain Morales Rivera mengirimkan gambar berikut yang diambil dari halaman belakang rumahnya di Aguadilla, Puerto Rico. Efrain Morales Rivera

“Cincin-cincin Saturnus telah menipis sekali dalam setahun ini”, katanya. Daerah Cassini atau Cassini Division (suatu daerah gelap dalam cincin Saturnus yang dinamakan Cassini) mulai sulit diamati. Fenomena yang sama terjadi empat ratus tahun lalu dan sempat memusingkan Galileo, sebagai orang pertama yang pada tahun 1610 menemukan cincin-cincin Saturnus melalui teropong primitifnya. Dia sangat tercengang ketika mendapati cincin-cincin tersebut menyempit sedikit setahun berikutnya.

Lalu, apa yang sebenarnya terjadi? Sekarang, kejadian yang sama adalah: kita mengalami suatu “pelintasan bidang cincin” (ring plane crossing). Ketika sedang dalam perjalanannya mengelilingi Matahari, Saturnus membelokkan cincinnya menjadi sejajar dengan garis pandang dari Bumi (edge-on) setiap 14-15 tahun sekali. Karena cincinnya yang sangat tipis, mereka bisa tidak teramati jika dilihat melalui teleskop kecil.

Dalam bulan-bulan berikut ini, cincin Saturnus akan menjadi semakin tipis sampai akhirnya mereka “hilang” pada 4 September 2009 nanti. Ketika hal ini terjadi pada 1612, Galileo mengabaikan studinya akan planet. Padahal, kita ketahui kemudian, saat-saat “pelintasan bidang cincin” seperti ini merupakan waktu yang baik untuk menemukan satelit-satelit dan cincin luar Saturnus yang baru. Selain itu, saat demikian juga merupakan waktu yang baik untuk melihat kutub utara Saturnus yang biru. Pada tahun 2005, wahana antariksa Cassini terbang di atas belahan utara Planet Saturnus dan menemukan bahwa langit di sana sebiru langit Bumi sendiri. Selama bertahun-tahun, hanya Cassini yang bisa menikmati pemandangan ini, karena dari Bumi, bagian atas Saturnus yang biru tertutupi oleh cincin-cincin Saturnus.

Galileo sendiri tidak pernah memahami sifat dasar alamiah dari cincin-cincin Saturnus. Dia tidak mengetahui bahwa mereka sebenarnya merupakan kumpulan satelit-satelit kecil yang mengorbit dalam bidang orbit piringan, berukuran dari debu hingga sebesar bulan kita (Kemungkinan cincin-cincin ini merupakan debris atau puing-puing dari satelit yang hancur, tetapi para ilmuwan sendiri masih belum yakin benar akan hal ini). Melalui teleskop abad 17-nya, cincin tersebut lebih menyerupai telinga atau semacam cuping planet.

Meskipun demikian, intuisinya mengarahkan Galileo untuk membuat prediksi yang tepat, bahwa cincin-cincin yang hilang ini akan kembali. Dan dia benar. Cincin Saturnus kembali tampak, dan para ilmuwan menyimpulkan penelitiannya. Pada tahun 1659, secara tepat Christiaan Huygens menjelaskan peristiwa menghilangnya cincin yang periodik selama terjadinya “pelintasan bidang cincin” atau “ring plane crossing” ini. Pada tahun 1660, Jean Chapelain mengatakan bahwa cincin Saturnus bukan merupakan benda padat, tetapi terbuat dari partikel-partikel kecil yang sangat banyak dan masing-masing mengorbit Saturnus secara independen. Selama dua ratus tahun, usulannya sempat tidak diterima secara luas, sebelum ternyata terbukti benar.
NASA
Cincin-cincin Saturnus sangat lebar tetapi juga sangat tipis. Para astronom menggunakan Teleskop Hubble untuk menangkap citra Saturnus dengan posisi cincin datarnya ini (edge-on) pada tahun 1995. Obyek terang seperti bintang pada bidang cincin yang terlihat pada gambar merupakan satelit-satelit es. Kredit Gambar : NASA

Tidak perlu bersedih hati dengan “musibah hilangnya” cincin Saturnus ini. Saturnus masih merupakan obyek yang indah untuk dilihat melalui teleskop yang kecil sekalipun. Malah, minggu ini sebenarnya merupakan minggu yang baik untuk mengamati Saturnus. Pada Selasa, 18 Maret dan Rabu, 19 Maret, Bulan yang hampir purnama dan Saturnus akan berada satu garis pada bagian yang sama di langit senja. Hal ini membuat Saturnus menjadi mudah dicari, tidak seperti biasanya. Setelah Matahari terbenam, lihatlah daerah sdi ekeliling Bulan, dan voila! Saturnus terlihat seperti “bintang emas” terang di dekat Bulan. Jika Anda melewati momen 18-19 Maret ini, coba lihat kembali 14-15 April. Bulan dan Saturnus akan berada berdekatan dan cincin Saturnus bahkan menjadi lebih sempit.

source: http://asaborneo.blogspot.com/2010/05/misteri-hilangnya-cincin-planet.html

Minggu, 23 Mei 2010

Perencanaan Mendarat Di Matahari



Selama lebih dari 400 tahun, para awak luar angkasa mempelajari matahari dari jarak jauh. Sekarang, tim dari Agen Luar Angkasa Eropa atau European Space Agency (ESA) bersama-sama dengan NASA berencana mengirim misi luar angkasa untuk menjelajahi bintang paling terang tersebut.

Misi luar angkasa ini bertujuan mendekati titik pusat matahari. Upaya ini nantinya diharapkan akan mengungkapkan jawaban dari sederet pertanyaan mengenai matahari, termasuk mengapa lapisan atmosfir di luar angkasa lebih panas dari permukaannya, apa yang menyebabkan terjadinya angin solar dan bintik matahari.

Pesawat luar angkasa yang berangkat dalam misi ini akan menempuh perjalanan lebih dari 70 juta mil menuju sistem solar yang kurang bersahabat dimana temperaturnya yang sangat panas mampu melelehkan apapun yang ada di sekitarnya termasuk pesawat luar angkasa itu sendiri, demikian yang dikemukakan oleh para astronot ESA yang dikutip dari Sunday Telegraph, Selasa (28/4/2009).



Salah satu dari dua misi yang dinamakan Solar Orbiter akan mengelilingi matahari sehingga ilmuwan ESA bisa melihat kutub matahari yang belum pernah bisa dilihat sebelumnya. Misi ini rencananya akan diluncurkan pada 2017 dan rancangan perjalanan misi sedang berjalan.

Pesawat luar angkasa dengan bahan pelindung dari panas dan radiasi tinggi berketebalan 15 inci ini akan mengorbit pada jarak 20 juta mil dari permukaan matahari.

Misi ini akan mengambil gambar permukaan matahari. Gambar ini nantinya akan menjadi gambar matahari paling rinci dari yang pernah ada sebelumnya. Selain itu para awak misi pun akan mengukur emisi partikel dan magnetik matahari. (OkeZone.com)